PENDIDIKAN KARAKTER

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai berbagai aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dialog, dan gelar wicara di media elektronik.

Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.

Sekilas SMP Dharmasastra Sempidi

SMP Dharmasastra sempidi yang beralamat di desa sempidi,kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, tepatnya di sebelah timur Pusat Pemerintahan (PUSPEM) Kabupaten Badung

Metode Pemberian Tugas dengan Feedback

Metode pemberian tugas dengan feedback pada prisipnya mempunyai tujuan yang sama dengan metode pemberian tugas, yaitu upaya peningkatan aktivitas belajar siswa melalui pemberian tugas agar prestasi belajarnya menjadi optimal

Masa Orientasi Siswa (MOS)

Masa Orientasi Siswa (MOS) atau sering disebut juga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (disingkat MPLS) merupakan sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan di sekolah guna menyambut kedatangan siswa baru.

Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2012

Metode Pemberian Tugas dengan Feedback


            Metode pemberian tugas dengan feedback pada prisipnya mempunyai tujuan yang sama dengan metode pemberian tugas, yaitu upaya peningkatan aktivitas belajar siswa melalui pemberian tugas agar prestasi belajarnya menjadi optimal.Adapun perbedaan antara metode pemberian tugas dan metode pemberian tugas dengan feedback yaitu, pada metode pemberian tugas siswa tidak mendapatkan feedback. Pada metode pemberian tugas, setelah siswa selesai mengerjakan dan mengumpulkan tugas-tugasnya, guru akan mencantumkan nilai atau skor pada lembar tugas yang telah dikumpulkan siswa tersebut. Pencantuman skor saja dinilai kurang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa secara optimal, hal ini sejalan dengan pendapat yang dinyatakan dalam Wikipedia (2008:1) Embedded comments provide much better feedback than a mere grade at the top of the paper.”  Menyertakan feedback dinyatakan jauh lebih baik hasilnya daripada hanya sekedar mencatumkan skor. Dengan memberikan feedback, siswa akan lebih termotivasi untuk belajar. Dampak dari pemberian feedback kepada siswa ini dinyatakan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Wikipedia (2008:1) ”Effective feedback improves student learning by correcting misunderstanding, validating process, and highlighting errors in thinking.” Feedback yang tepat sasaran akan mampu memotivasi minat belajar siswa dengan cara memberikan komentar ataupun coretan yang berfungsi sebagai penegasan terhadap kekeliruan yang telah dibuatnya.
           Milton John, RMIT (2000:1) juga menyatakan bahwaFeedback is a starting point for learning – not just confirmation for the students that they were right or wrong. In particular, students will appreciate advice which helps them discover and address their weaknesses.” Feedback dikatakan tidak hanya terbatas pada kegiatan menyalahkan atau membenarkan terhadap tugas yang telah dikerjakan siswa, tetapi hal yang terpenting dalam memberikan feedback adalah siswa lebih menghargai feedback yang telah membantunya untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang siswa miliki untuk diperbaikinya kedepannya.
           Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan, dapat dikatakan feedback merupakan informasi atau petunjuk yang dapat dijadikan sebagai pedoman bagi siswa untuk menentukan sikap dalam memperbaiki kekurangannya. Namun, dalam praktek mengajar sehari-hari sebagaian guru sering kali mengartikan feedback sebagai pujian saja. Seperti yang diungkapkan oleh Grant Wiggins (2007:2) yang menyatakan “And in terms of feedback, many teachers mistakenly think that giving such general praise as "Good job!" is feedback, for example. But such praise only keeps you interested; it cannot improve your performance, which is what feedback can do.”  Banyak guru yang menyalahartikan apa itu feedback, misalnya pujian “bagus!” dianggap sebagai feedback. Dengan memberikan pujian saja belumlah cukup, karena siswa belum mengetehui dengan jelas apa yang harus dilakukan agar hasil yang dicapai lebih baik dari sebelumnya, dimana hal ini akan berdampak sebaliknya dengan memberikan feedback, yaitu motivasi belajar siswa menjadi optimal dan mampu meningkatkan keterampilan guru dalam mengajar.
           Milton John, RMIT (2000:1) juga menyatakan bahwa  “Feedback is an integral part of all teaching not just assessment. Feedback is constructive observations and suggestions on work done, skills acquired, emerging capabilities, ideas for directing further learning. Clearly these can be provided throughout a learning program.Feedback dikatakan sebagai bagian yang terpenting dalam setiap pembelajaran. Feedback juga dinyatakan sebagai saran-saran yang bersifat membangun atas keadaan prestasi belajar siswa selama pembelajaran. Sehingga  feedback sangat penting disertakan pada setiap pembelajaran.
            Mengacu pada beberapa pendapat yang telah dikemukakan, menambahkan feedback dalam mengajar melalui metode pemberian tugas akan dapat meminimalkan kelemahan dari metode pemberian tugas itu sendiri, salah satunya adalah siswa lebih merasa diperhatikan sehingga timbul keinginan untuk menunjukkan dirinya mampu mengerjakan sesuatu khususnya dalam mengerjakan tugas yang telah diterimanya. 

Referensi :

Grant Wiggins, 2007. Assessment as Feedback, (Online) (http://www.nysaae.org/
Assessment as Feedback by Grant Wiggins.pdf, diakses 23 Februari 2008)


John Milton, RMIT. 2000. Feedback To Students, (Online),
(http://tls.vu.edu.au/learning_and_teaching/guidelines/VU12/Feedback to students RMIT VU12.pdf, diakses 8 Februari 2008)
Wikipedia. 2008. (diakses, 9 Februari 2008)


Jumat, 02 Maret 2012

Pengertian Kurikulum



Istilah kurikulum (curriculum), yang pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga, berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali atau penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir probgram pelajaran untuk memperoleh ijazah.

Berdasarkan pengertian kurikulum tersebut terkandung dua hal pokok, yaitu (1) adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa dan (2) tujuan utamnya yaitu untuk memperoleh ijazah. Dengan demikian, implikasi terhadap praktik pengajaran yaitu setiap siswa harus menguasai seluruh mata pelajaran yang diberikan dan menempatkan guru dalam posisi yang sangat penting dan menentukan. Keberhasilan siswa ditentukan oleh seberapa jauh mata pelajaran tersebut dikuasainya dan biasanya disimbolkan dengan skor yang diperoleh setelah mengikuti suatu tes atau ujian.

Seiring perkembangannya, kurikulum tidak terbatas hanya pada mata pelajaran saja, tetapi menyangkut semua pengalaman belajar (learning experiences) yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya. Harold B. Alberty (1965) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah (all of the activities that are provided for the students by the school). Kurikulum tidak dibatasi pada kegiatan di dalam kelas saja, tetapi mencakup juga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa di luar kelas. Pendapat yang senada dan menguatkan pengertian tersebut dikemukakan oleh Saylor, Alexander,m dan Lewis (1974) yang menganggap kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa supaya belajar, baik dalam ruangan kelas , di halaman sekolah, maupun di luar sekolah (The curriculum is the sum total of school’s efforts to influence learning, whether in the classroom, on the playground, or out of school)

Banyak para ahli pendidikan yang memiliki pandangan atau tafsiran yang beragam, bahkan ada diantaranya yang sangat kontradiktif sehingga hal in imneyebabkan sulitnya mengambil suatu pengertian ytang mewakili pandangan-pandangan tersebut. Selain itu, pengertian kurikulum tersebut senantiasa berkembang terus sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Sementara ini, untuk mengatasi masalah tersebut, ada usaha-usaha yang dilakukan dengan jalan mengklasifikasikannya berdasarkan pandangan lama dan kemudian pandangan lama menganggap kurikulum itu sebagai kumpulan dari mata pelajaran atau bahan ajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari siswa, sedangkan pandangan yang kemudian lebih menekankan pada pengalaman belajar. Kemudian ada yang mengklasifikasikannya konsep-konsep kurikulum berdasarkan pandangan tradisional dan pandangan modern. Pandangan tradisional menganggap kurikulum tidak lebih dari sekedar rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran apa yang harus ditempuh siswa di suatu sekolah, itulah kirukulum, sedangkan pandangan modern menganggap kurikulum lebih dari sekadar rencana pelajaran. Kurikulum dianggap sebagai sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah.

Dengan beragamnya pendapat mengenai kurikulum, maka menurut Hamid Hasan (1988), sebenarnya kurikulum ini bukanlah merupakan sesuatu yang tunggal. Istilah kurikulum menunjukkan berbagai dimensi pengertian. Ia menunjukkan bahwa pada saat sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, diama satu dimensi dengan dimensi lainnya saling berhubungan. Keempat dimensi kurikulum tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Kurikulum sebagai suatu ide
  2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide.
  3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum. Secara teoritis dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis
  4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan dampak dari kurikulum sebagai suatu kegiatan